
SECARIK TULISAN
UNTUK KARYA DEDISYAH
Adalah sebuah kehormatan ketika saya diminta penulis untuk menjadi orang pertama yang membaca kumpulan puisinya sebelum diterbitkan. Sebagai orang yang terbiasa menggunakan logika sebagai pisau analisis, maka puisi yang ditulis Dedi ini dengan segera melarutkan saya dalam kubangan ‘kegelisahan’.
Jujur. Saya sudah lupa kapan terakhir merasa gelisah melihat sebuah ketimpangan bergelayut di kelopak mata. Tradisi ilmu sosial Barat modern telah mendoktrin saya untuk menatap realitas sosial sedingin pisau seorang dokter bedah. Rutinitas pekerjaan sebagai analis komunikasi menjadikan saya terlalu berjarak dengan realitas. Kegelisahan itulah yang segera menjemput begitu saya larut dalam pengalaman batin seorang Dedi dalam puisinya.
Saya tak mampu menyembunyikan rasa iri terhadap siapa pun yang mampu menjadi notulen yang baik untuk kehidupannya. Demikian pula terhadap Dedi. Tidak ada satu pun pengalaman yang sanjung sebagai petualangan hebat, atau ia sesali kendati dalam beberapa kali ziarah batin ia telah menjadi seorang fatalist. Ia menempatkan seluruh pengalaman batinnya sebagai anak kandung dari rahim kejujuran.
Tanpa pretensi untuk menyanjung, saya menemukan suatu dimensi baru dari sebuah kritik sosial. Dalam Catatan Perjalanan atau Metropolis (Jakarta Usir Ketulusan Simpati), Dedi mampu menguliti kehidupan perkotaan yang makin mengalienasi warganya tanpa sengkarut amarah dan caci maki layaknya puisi-puisi protes para demonstran. Sementara dalam puisi Pulang KepadaMu, kita diajak untuk merenungkan begitu dekatnya maut dalam semangat yang religius namun tidak terjebak semangat ‘pemberhalaan agama’.
Temuan besar yang saya peroleh dari penjelajahan puisi Dedisyah ini adalah kejujuran dan kebersahajaan. Dua hal langka dalam kehidupan modern. Kita jadi makin sulit untuk menemukan aspek kehidupan yang tidak terkontaminasi bias politik dan interest kelompok. Ilmu sosial makin memperkosa realitas, fatwa kaum ulama makin tidak digubris ketika bau politik menyengat hidung umatnya. Perkembangan paling mutakhir, dan ini paling mengerikan, karya seni pun kini dikemas layaknya kembang gula di super market. Semangat ‘pro pasar’ inilah yang membentuk seluruh masyarakat menjadi hedonist, termasuk seniman sekalipun.
Kendati demikian, pada beberapa puisinya, saya merasa ‘tersesat’. Keintiman Dedi saat bergumul dengan realitas membuat saya terhuyung dan kehilangan arah mata angin. Namun saya bisa memahami. Bisa jadi ini subyektif. Namun begitulah sejatinya sebuah karya yang dilahirkan secara tulus. Bukan karena pesanan. Apalagi dengan motif pemuasan.
Pilihan untuk menjadi manusia merdeka membuat Dedi memilih menerbitkan karyanya secara independent. Saya kira siapa pun sepakat bahwa seorang idealist seperti Dedisyah yang tetap konsisten hidup di jalur kesenian perlu untuk didorong terus berkarya dan membagi kegelisahannya.
Kumpulan puisi ini patut untuk dibaca setiap orang yang ingin tetap merasakan terik matahari memanggang kepala, telapak kaki perih dan pecah-pecah saat berjalan di jalan setapak yang terjal berbatu dan terhanyut dalam kedamaian bau humus dan getah pinus.
Bekasi, 8 Maret 2009
Tian Bahtiar
Kamis, 12 Maret 2009
Kamis, 22 Januari 2009
SENI SERAT, SEBUAH KEMUNGKINAN

Di tengah gegap gempita pameran seni lukis Yogyakarta, seni serat hadir di tengah-tengah kita. Pada tanggal 3 sampai 11 Januari 2009 digelarlah pameran seni serat dengan tajuk Fiber Face 2 Yogyakarta, di Taman Budaya Yogyakarta. Pameran ini diselenggarakan oleh Rumah Budaya Babaran Segaragunung bekerjasama dengan Taman Budaya Yogyakarta. Disamping pameran itu sendiri, terdapat sub acara Sarasehan dan Slide Show pada tanggal 4 Januari di ruang seminar TBY, yang menghadirkan peserat senior Biranul Anas dari Bandung, dan Hani Winotosastro dari Yogyakarta.
Banyak rekan-rekan seniman dan akademisi yang melontarkan pertanyaan, ini pameran apa? Sekiranya maklum sebab event pameran seni serat memang belum lazim diselenggarakan di Indonesia. Dari 3 kali pameran seni serat yang digelar Rumah Budaya Babaran Segaragunung (BSG) tahun 2007 (Fiber Face Yogya 2007, di Galeri Rumah Budaya Babaran Segaragunung), tahun 2008 (Fiber Face, Cross-Cultural Batik Collaborations, Indonesia 2008, di Taman Budaya Yogyakarta), dan yang sekarang tahun 2009 (Fiber Face 2 Yogyakarta 2009, Evolusi) di Taman Budaya Yogyakarta, ketiganya menuai pertanyaan-pertanyaan serupa yang sebenarnya masih permukaan sifatnya. Hal ini berbeda dengan reaksi pengunjung umum yang justru bisa langsung masuk dalam apresiasinya tanpa terganggu hal-ihwal yang sifatnya definitif demikian. Rata-rata mereka memperhatikan dengan khusuk satu karya lalu berpindah ke karya lain yang secara bentuk dan substansi memang beragam.
Secara garis besar seni serat adalah karya seni yang dari segi teknik dan subtansi mengeksplorasi media serat. Unsur-unsur teknik meliputi: pintal, anyam, rajut, songket, dan teknik lain semacam itu. Jadi, bukan pencapaian bentuk akhir yang menjadi acuannya. Bentuk akhir bisa menjadi sangat variatif: karya dua dimensi, karya tiga dimensi, serta pula karya instalasi.
Sekiranya variasi-variasi tersebut merupakan sesuatu yang menarik bagi kreator, apresian maupun publik penikmatnya. Yang menarik bukan semata variasi itu sendiri, melainkan karena terhamparnya kemungkinan-kemungkinan yang acapkali mengejutkan karena tak disadari sebelumnya. Dalam kurang dan lebihnya, aneka ragam karya yang tersaji di ruang pameran itu, siapakah yang pernah membayangkannya? Citra setiap karya terkait dengan masing-masing media dan teknik yang digunakannya.
Memang seni serat belum sepopuler seni lukis yang eksistensi dan infrastrukturnya sudah mapan serta tergarap. Tapi bahwa seni serat merupakan kekayaan budaya yang lekat dengan lingkungan siapa saja, dengan tradisi masyarakat manapun, yang karenanya menyodorkan kemungkinan-kemungkinan pengolahan dan penjelajahan, itu belum banyak disadari oleh khalayak. Bahan untuk membuat karya sifatnya fleksibel, mudah dan murah mendapatkannya, sehingga—berkaitan dengan itu—tak ada alasan bagi kita untuk mengeluh ini dan itu. Secara teknik juga bisa mengadopsi dari mana-mana—sebagaimana kita tahu, di negeri kita ini karya-karya seni tradisional telah mencapai kematangan masing-masing tekniknya yang bisa kita pelajari dan kita kembangkan—Dan kita berhak untuk bertanya: pada titik eksplorasi yang optimal dan totalitas berkarya yang optimal pula, seberapa jauh mutu dan seberapa kayakah ragam rupa dari seni serat yang seharusnya? Betapa slide show Biranul Anas yang menampilkan karya-karya seni serat mashur dari berbagai negara seolah-olah menantang kita semua.
Berkaitan dengan pameran Fiber Face 2, sebagian orang masih merasa ada satu kerancuan oleh sebab banyak karya batik yang dipajang dalam pameran ini. Apakah batik juga masuk kategori seni serat? Bagaimana halnya dengan lukisan, yang menggunakan kanvas, yang notabene jika diurai secara subtantif juga terdiri dari media serat?
Dalam hal ini batik dan lukisan mesti dibedakan. Meskipun secara sepintas terkesan sama, secara proses antara batik dan lukisan-kanvas teranglah berbeda. Lukisan kanvas tidak melakukan pengolahan media kanvasnya, melainkan hanya eksplorasi cat—teknik gores dan warna—yang sekali jadi. Berbeda dengan batik, yang untuk menghasilkan warna tertentu harus lebih dahulu mempertimbangkan dan mengakrabi media kain dan warna yang akan digunakan, yang notabene prosesnya tidak bisa sekali jadi. Batik masuk dalam kategori serat karena mengandung pengolahan teknik dan bahan yang mengacu pada media serat terkait.
Sampai di sini persoalan belum usai, oleh sebab karya-karya lain yang ada dalam ruang pameran menggunakan media kawat, peniti, tembaga kabel, kayu, serta—dalam slide show yang ditunjukkan oleh Biranul Anas—menampilkan contoh karya seni serat yang terbuat dari perak. Perak secara subtantif bukanlah media serat. Karya tersebut dikategorikan seni serat oleh karena dalam citraan bentuknya menggunakan pendekatan karakter serat, yang diolah sedemikian rupa menyerupai serabut. Duz, Biranul Anas—yang mengaku pertama kali memperkenalkan istilah ‘seni serat’ di Indonesia—menekankan betapa seni serat bisa menggunakan media apa saja. Dan ini merupakan peluang bagi siapa saja yang ingin menekuninya. Ia menghimbau pengunjung slide show-nya untuk tidak terlalu tegang dalam memaknai apa itu seni serat. Yang utama berkarya, apapun bentuknya, apapun medianya. Seni serat tidak harus terpaku begini dan begitu.
Namun, melihat luasnya batas definisi seni serat yang sedemikian, saya ingin mencoba memberikan satu rel—tanpa bermaksud mengekang keluasannya—dengan menyimpulkan: bahwa terdapat tiga pendekatan proses kreatif yang bisa dijadikan acuan dalam seni serat antara lain: pendekatan teknik, pendekatan subtantif, dan pendekatan karakter. Maka batik dan semacamnya merupakan karya yang menggunakan pendekatan subtantif sekaligus teknik. Karya-karya yang non-subtantif seperti logam, kayu, keramik, dan lainnya menggunakan pendekatan karakter atau teknik-karakter.
Halim HD, yang juga terlibat sebagai moderator sarasehan bahkan sempat memberikan sentilan yang cukup menantang. Ia berandai-andai, melalui pendekatan karakter prospek seni serat mungkin saja bisa merambah pada media cahaya. Dilontarkannya satu gagasan imajinatif tentang ribuan cahaya laser yang disemprotkan bersamaan hingga membentuk anyaman-anyaman cahaya dalam berbagai formasinya.
Hal lain yang menjadi pertanyaan, lagi-lagi kembali kepada soal batik. Kenapa batik ditampilkan bersama-sama dengan karya-karya seni serat kontemporer yang eksploratif itu? Dalam sarasehan Biranul Anas mengutarakan perlunya pembedaan ruang secara jelas antara yang tradisional dan kontemporer. Hal itu mengingat kebebasan kreatif perlu mendapatkan keleluasaan tanpa dibelenggu pakem-pakem masa lalu. Tradisionalisme cukuplah menjadi spirit di dalam berkarya, untuk selanjutnya seorang seniman bisa melaju bebas dalam ranah imajinasi dan penjelajahan artistiknya sendiri. Secara sikap pribadi ia mengaku memberikan altar penghormatan yang tinggi kepada karya-karya tradisional. Namun secara praktis ia cenderung bersikap progressif dan eksploratif, serta secara tegas membuat dikotomi ruang antara yang tradisional dan kontemporer.
Lain halnya dengan tanggapan yang diutarakan Agus Ismoyo, yang turut terlibat dalam proses seleksi dan kuratorial pameran ini. Bagaimanapun ia merasa perlu adanya penyandingan antara yang tradisional—dalam konteks pameran ini berarti batik dan wayang kulit—dengan yang kontemporer. Pertama, terkait dengan tema Fiber Face (wajah serat). Telah disadari sejak awal bahwa secara kuratorial pameran ini memang hendak menampilkan ‘wajah serat’ dari berbagai kurun waktu dan berbagai generasi. Kedua, terkait dengan judul pameran ‘Evolusi’, bahwa pameran ini dikontribusikan kepada khalayak banyak, generasi muda khususnya, supaya melihat evolusi atau pergeseran yang terjadi dalam ekspresi tiap-tiap karya seni serat yang disuguhkan.
Agus Ismoyo juga menguraikan pandangannya, bahwa dengan menampilkan seni-seni tradisional, ia berharap khalayak bisa menangkap suatu ‘tatanan’ yang terdapat di dalam seni tradisional itu. Sebutlah ‘tatanan’ itu sebagai sebuah konstruksi yang menjadi panduan satu pribadi dalam melakukan proses kreatif. Ia mencontohkan, melalui pengalamannya berkolaborasi dengan para seniman Aborigin ia menjadi tahu bahwa dalam proses kreatif mereka memercayai apa yang disebut dreaming, sebagai pijakan dalam mengungkapkan corak ekspresinya. Dreaming merupakan sebuah kristalisasi pengolahan kreatif yang dimiliki oleh masing-masing kreator setelah melampaui fase-fase pengendapan sebelumnya. Dan untuk menuju pada fase itu mereka menempuh ‘tatanan’ kreatif yang sudah ada secara turun temurun, yang menjadi tradisi mereka. Agus Ismoyo mengungkapkan, hal serupa juga terkandung dalam seni tradisional yang lain, tak terkecuali seni tradisional Jawa. Bahwa ‘tatanan’ itu menempati posisi yang signifikan dalam proses kreatif yang kontemporer sekalipun. Batik yang dipajang dalam ruang pameran, bukan semata-mata lembaran jarik yang berfungsi untuk kekenesan penampilan, melainkan dimaksudkan sebagai sebuah jendela apresiasi, supaya generasi muda juga mengenal ‘tatanan’ termaksud. Dalam konteks ini, Agus Ismoyo menerangkan bahwa kuratorial pameran ini memang menggunakan perspektif budaya yang ingin menjangkau kepentingan kebudayaan lebih luas, bukan hanya elemen artistik dan estetika semata.
Lain daripada itu, Nia Fliam juga turut menambahkan, bahwa generasi muda sekiranya perlu mengetahui proses kreatif yang telah terjadi dari masa ke masa supaya dalam menjelajah gagasan-gagasan kreatifnya tidak terlepas dari akar kulturnya. Euforia wacana Barat yang hegemonic sejak masuknya seni modern yang diperkenalkan oleh kolonialisme Belanda hingga sekarang masih meninabobokan generasi muda yang terkesan enggan untuk menelusuri akar kebudayaannya sendiri. Ia juga menekankan makna pentingnya nilai-nilai yang terkandung dalam proses kreatif—dicontohkan proses pembuatan batik—yang tidak serta-merta seorang seniman bisa berpesta dengan gagasannya melainkan mesti lebih dahulu mendidik diri untuk teliti, tekun, dan sabar—karena kompleksitas dan kerumitan tekniknya—bukan langsung berjibaku dengan wacana dan estetika tanpa fondasi dan akar kultur yang kuat.
Ya. Yang seharusnya, generasi muda ke depanlah yang bisa menjawab. Segelintir penyelenggaraan pameran seni serat di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta hanyalah sebuah upaya kebudayaan yang mencoba memberikan stimulasi dan introduksi. Pada akhirnya semuanya berpulang kepada bagaimana publik menyambutnya.
Dan seni serat bukanlah definisi yang mati. Ia akan terus bergerak bersama kemungkinan-kemungkinan yang mengiringinya.
Yogyakarta, 9 Januari 2009
DS PRIYADI
Senin, 10 Desember 2007
Sastra

SEBUAH RESTORAN, MOSKWA
Melalui caviar dan vodka
kami langgar sepuluh dosa.
Di atas kain meja yang putih
terbarut tindakan yang sia-sia.
Botol-botol anggur yang angkuh
dan teman wanita yang muda
adalah hiasan malam yang terasa tua.
Hari-hari yang nampak koyak-moyak
disulam dengan manis oleh wajahnya.
Dalam kepalsuan
kami berdua bertatapan.
Bahunya yang halus berkilau biru
oleh cahaya lilin dan lampu.
Pintu-pintu berpolitur
dengan tirai untaian merjan.
Sementara musik berbunyi
jam berapa kami tak tahu.
Di atas kursi Perancis
kami bertukar senyum
dan tahu
masing-masing saling menipu.
Dengan gelas-gelas yang tinggi
kita membunuh waktu
dalam dosa.
Bila begini:
Manusia sama saja dengan cerutu
bistik atau pun whiski-soda
berhadapan dengan waktu
jadi tak berdaya।
Rendra
Dari Kumpulan Sajak-sajak Sepatu Tua

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS
Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu.
Di Karet, di Karet (daerahku (y.a.d) sampai juga deru dingin.
Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang.
Dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang.
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.
1949
Chairil Anwar
Jumat, 07 Desember 2007
Budaya
KOLEKTIFITAS
DS Priyadi
Seni serat tidak terdikotomi tersendiri sebagai cabang seni yang bisa diapresiasi secara khusus, oleh sebab istilah serat lebih dipakai dalam pendekatan materialnya dan bukan spesifikasi seninya. Selanjutnya, perkembangan yang terjadi merespon seni serat tidak berdasar pada serat natural saja, melainkan juga material lain yang diolah dengan mengacu pada karakterisasi serat itu. Niscaya, seni serat menjadi bermacam-ragam bentuk ungkap ekspresinya: karya dua dimensi, karya tiga dimensi, atau komposisi dari keduanya yang sifatnya instalatif. Masing-masing karya menyediakan ruang yang leluasa untuk diapresiasi dari perspektif yang berbeda-beda.
Apabila dirunut lebih jauh ke belakang tentu seni serat bukanlah hal yang baru, karena bahan serat merupakan bahan yang disediakan oleh alam yang bisa dengan mudah didapatkan. Hampir seluruh masyarakat tradisional yang dekat dengan bahan serat tersebut telah memanfaatkannya untuk kebutuhan kehidupan mereka, baik kebutuhan praktis maupun non praktis.
Pada perkembangannya, seni serat kontemporer merupakan pengolahan dan penghayatan yang masih terkait dan bertolak dengan karya-karya serat tradisional, sehingga bagaimanapun jauh eksplorasi yang telah dilakukan kita masih bisa meneropong dengan kacamata tradisional itu.
Batik merupakan satu celah kreatif yang merespon serat tekstil dari sisi seni rupanya. Jika kita mengikuti khasanah batik tradisional, sebenarnya telah terjadi eksplorasi artistik yang luar biasa. Ribuan motif batik yang dimiliki oleh daerah-daerah seperti Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, Cirebon, Lasem dan lain-lain merupakan satu indikasi bahwa batik telah menempuh proses panjang dalam melakukan penyempurnaan ekspresi dan penjelajahan artistik sehingga dari situ kita bisa membaca adanya akulturasi dan pertumbuhan yang terjadi. Dalam hal ini kraton ikut andil mempengaruhi perkembangan batik di Jawa, yang pada akhirnya melahirkan wacana tersendiri tentang batik tradisional. Betapapun juga, di luar pengaruh kraton masyarakat desa sebenarnya telah bergerak dinamis mengembangkan karya-karya batik mereka.
Dewasa ini karya batik tampil dengan wajah seni rupanya yang baru, yang kemudian menjadi khas karena proses pembuatannya representatif dengan teknik tradisional. Eksplorasi teknik yang berkembang mencerminkan suatu pengolahan media yang bisa menampung ekspresi dalam senimannya secara lebih leluasa. Media batik lebih dihayati sebagai media yang dalam jangkauan tertentu juga bisa menampung gagasan yang ekspressif sebagaimana media seni rupa cat dan kanvas. Namun sebenarnya suatu nilai khas bukan semata karena unsur teknikalnya, melainkan juga karena proses transformasi nilai tradisionalnya. Karya-karya basketry, tapestry, obyek, dan instalasi kontemporer demikian halnya. Banyak di antara karya-karya kontemporer tersebut yang merefleksikan spirit tradisional, sehingga nampaklah bahwa ada proses pertumbuhan yang saling terkait dan bertolak dari tradisionalisme.
Sebenarnya apa yang menarik dalam seni tradisional adalah corak ekspresi kolektifnya. Kolektifitas di sini terjadi oleh karena tata nilai yang berlaku dan menjadi pegangan satu masyarakat. Dalam masyarakat tradisional tata nilai itu memperoleh tempat yang utama sehingga ekspresi kolektif lebih memiliki ruang yang besar daripada ekspresi personal. Karya-karya yang prosesnya dibuat secara personal, sebagaimana topeng dan patung, itu pun diciptakan dengan kontribusi kolektif, misalnya untuk upacara bersama. Kolektivitas di sini membentuk fungsi dan artistiknya sekaligus. Apabila kita cermati, sebenarnya perjalanan artistik seni tradisional telah mencapai tataran yang matang. Kematangan tersebut terjadi karena proses penyempurnaan yang panjang dari generasi ke generasi. Perkembangan dan perubahannya tidak dilakukan secara konseptual dan sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit mengikuti gerak naluri dan intuisi kolektif. Corak batik tradisional yang penuh dengan simbol-simbol mencerminkan gerak naluri dan intuisi kolektif tersebut. Kita juga bisa menemukan nuansa realisme dalam batik oleh karena pengaruh kolonial Belanda yang kini banyak berkembang dalam industri batik di Pekalongan. Ada pula pengaruh dari China, India, Jepang, dan Arab.
Seni rupa wayang kulit juga telah melakukan deformasi bentuk karena tidak lagi berbicara dalam konteks realisme, melainkan menmentransformasikan penghayatan dalam yang berhubungan dengan simbol watak atau karakter tokoh. Begitu pula dengan topeng atau patung tradisional, secara artistik lebih tampil ekspressif karena menampilkan dimensi abstraktif yang hidup dalam masyarakat. Satu hal yang tidak bisa dilalaikan adalah bahwa proses transformasi itu pun terkait dengan penghayatan dan nilai kolektif, sehingga pengembangan seni rupa tradisional tidak bisa dihadapi secara suntuk dengan sikap kreatif yang melulu personal. Karya-karya seni tradisional tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan dimensi-dimensi di luar artistiknya. Ada nilai-nilai yang turut ambil bagian dalam proses penciptaannya.
Secara umum, kesan artistik yang tertangkap memang satu sama lain identik. Namun sebenarnya ada ragam yang berbeda-beda yang menjadi ciri masing-masing yang hal itu muncul oleh karena lahirnya ragam kolektifitas pula dan bukan personalitas. Misalnya ada identitas tersendiri antara wayang Surakarta dan Yogyakarta. Begitu pula dalam batik. Antara Surakarta, Yogyakarta, dan pesisiran menampilkan corak yang berbeda-beda. Topeng pun begitu pula. Topeng Cirebon, topeng Dayak, topeng-topeng dari suku-suku di Irian memiliki bentuk ucapan yang khas pada masing-masingnya. Demikian pula dengan senjata-senjata pusaka, masing-masing masyarakat memiliki identitasnya sendiri.
Kesan identik yang ada sebenarnya lahir karena peradaban yang sama-sama dekat dengan alam. Kolektifitas merupakan satu kebudayaan yang terbentuknya banyak dipengaruhi oleh faktor alam. Dari kolektifitas itu kemudian lahir ritual dan spiritual yang dalam kreatifitas berperan membukakan ruang untuk mengolah kepekaan dalam seseorang.
Dalam masyarakat masa kini tata-nilai itu sudah sedemikian rancunya karena penetrasi budaya yang dari mana-mana. Ekspresi personal kemudian mendapatkan peluang yang luas untuk tampil ke muka. Dan ini merupakan kenyataan yang terjadi dalam kebudayaan seluruh bangsa di dunia. Tak bisa tidak, ekspresi personal selanjutnya menjadi berkembang oleh sebab gerak peradaban membutuhkan dialog yang demikian. Betapapun juga, pada satu titik perkembangannya ekspresi seni kontemporer yang lebih menyediakan ruang gerak personal pun membutuhkan satu identitas kolektif untuk berbicara dengan ekspresi seni yang lain. Dan tradisionalisme menyediakan ruang untuk terjadinya interaksi nilai yang mengakar pada kehidupan suatu masyarakat. Ini terlebih dalam bidang seni serat yang secara bahan tidak berbeda jauh baik yang tradisional maupun yang modern.
Dalam kreatifitas tradisional distansi itu tidak ditemui. Antara masyarakat, tata-nilai dan seniman secara integratif dan interaktif bersama-sama berada dalam ruang kreatifnya. Melalui sikap tradisionalis, seorang seniman kontemporer sebenarnya melakukan suatu pendekatan nilai untuk bisa meraih ucapan yang universal. ***
*Pemerhati Seni Budaya, tinggal di Yogya
Selasa, 04 Desember 2007
Meditasi
MENGENAL MEDITASI
DS Priyadi
Sebelum latihan teater biasanya pelatih memberi instruksi agar ‘prep’ dulu. Maksudnya, secara penuh menyiapkan diri dulu agar bisa penuh pula mengikuti latihan-latihan selanjutnya. Maka, semua duduk bersila, meluruskan punggung, dan memejamkan mata.
Meditasi sebenarnya tidak hanya untuk teater. Pada intinya, meditasi adalah suatu disiplin dalam kebudayaan yang berupaya untuk meningkatkan kesadaran manusia. Jadi ia bisa dilakukan oleh siapa saja, dari bidang apa saja, asal merasakan suatu manfaat dari latihan itu.
Lalu apakah yang dilakukan ketika duduk bersila itu? Kita mulai dari dasar dulu. Yang jelas, dengan duduk bersila dan memejamkan mata, seseorang dituntut untuk bisa merileks-kan seluruh badannya. Dalam khasanah yoga, yang demikian itu disebut asana yoga, yaitu yoga yang dilaksanakan dengan berdiam diri, tanpa gerakan, dengan posisi duduk tertentu (asana). Setelah duduk rileks, lalu mengatur nafas. Atau tanpa mengatur nafas pun tak apa, dengan menghayati nafas seadanya yang keluar-masuk hidung. Dengan menghayati demikian lama-lama nafas menjadi teratur sendiri.
Jika sudah duduk tenang dan nafasnya sudah teratur, fikiran supaya berkonsentrasi meneliti secara rinci tingkat kerileks-an setiap organ. Apakah dahinya sudah betul-betul rileks? Lalu pipi, bola mata, hidung, daun telinga, bibir, dagu, kulit kepala, tengkuk, leher, pundak, tulang punggung, kulit punggung, tangan, dada, perut, pantat, paha, betis, telapak kaki, jari-jari kaki, pokoknya semuanya dicek. Kalau ada yang belum rileks, perintahkan agar rileks. Kalau sudah rileks, perintahkan untuk lebih rileks. Dan jangan lupa menghayati nafas. Nafas semakin teratur semakin baik. Nafas yang teratur akan turut membantu mengondisikan rileks, di samping melancarkan sirkulasi darah dan oksigen dalam tubuh. Setelah nafas teratur bisa ditingkatkan menjadi nafas yang lembut atau halus. Semakin halus semakin baik, sampai akhirnya nafas bisa dirasakan oleh seluruh badan kita. Dalam itulah diri kita merasa tenang dan damai.
Untuk pemula biasanya ada kendala kurang nyaman karena posisi duduk yang diatur. Biasanya kaki kesemutan sehingga mengganggu konsentrasi. Jika demikian, janganlah dipaksakan. Latihan sebentar dulu, 5 sampai 10 menitan cukup. Kalau rajin, dalam waktu seminggu insya’allah sudah tak kesemutan lagi. Akan Anda rasakan nanti betapa duduk yang diatur itu adalah suatu kenyamanan tersendiri. Nyaman, karena pengaturan posisi itu memang mempertimbangkan posisi alamiah badan kita.
Usahakan agar badan statis. Tidak bergerak-gerak, tetapi rileks. Itu kunci utama apabila mau memasuki tahapan meditasi yang lebih jauh lagi. Landasi pula dengan semangat yang kokoh, mantap, dan terbuka. Maka, dalam sikap duduk yang tenang, dengan tulang punggung yang lurus, dengan nafas yang teratur, fikiran meneliti seluruh organ tubuh agar betul-betul dalam kondisi rileks. Lakukanlah dengan penuh yakin. Dan tak perlu tergesa-gesa ingin mencapai ini dan itu yang tak jelas sasarannya. Nanti malah membuang waktu saja. Selesaikan dulu persoalan: bagaimana bisa duduk tenang dan rileks. Jika itu bisa dipenuhi, berbagai kemungkinan akan terjadi, sebab aktifitas ‘dalam’ meditasi tak seluruhnya dalam kendali fikiran. Dalam keseimbangan dan ketenangan tertentu bisa muncul suatu gerakan yang naluriah dari badan kita. Semisal, pada organ tertentu ada semacam desakan atau denyutan. Atau, badan kita dengan sendirinya bergoyang-goyang. Atau, ada hawa hangat yang merambat di dalam tubuh kita. Dan lain-lain lagi. Jika terjadi hal-hal semacam itu, ikutilah dengan tenang sampai meditasi selesai. Jika ketenangan tak bisa dihadirkan, jangan dipaksakan. Dengan pelan-pelan hentikanlah meditasi, dan ulanglah kembali dari awal.
Bagi yang sudah terlatih, rileksasi bahkan sangat mendetail sampai organ-organ dalam: jantung, hati, usus, lambung, ginjal, paru-paru, limpa, kelenjar timus, kelenjar tiroid, kelenjar thalamus, kelenjar hipothalamus, kelenjar pineal, kelenjar pituitary, kelenjar pancreas, syaraf-syaraf, sum-sum, dan darah. Untuk bisa sampai itu orang tak perlu hebat atau sakti. Yang penting itu tadi, bisa duduk tenang dan rileks, dan bernafas dengan segenap badan kita. Detak jantung, aliran darah, kerja syaraf, gerakan kelenjar, akan bisa kita rasakan dengan sendirinya. Kalau sudah bisa merasakan, fikiran bisa memandu. Semacam tour itu. Bisa tamasya ke otak, ke jantung, ke paru-paru, ke lambung, dan seterusnya. Ikuti dan hayati gerakannya. Kalau sudah cukup fikiran memandu untuk pindah ke organ lainnya. Atau, jika dalam meditasimu itu ada hawa hangat yang bergerak, ikutilah gerakannya. Hawa hangat itu bisa muncul dari mana saja. Bisa dari punggung, dari perut, dari dada, atau dari kepala. Biasanya lalu merambat ke organ-organ yang lain.
Hawa hangat itu sering disebut sebagai hawa murni. Kalau dalam yoga namanya prana. Kalau dalam Tao disebut chi. Kalau dalam Zen disebut ki. Kalau dalam bahasa Inggris disebut prhenic. Orang-orang Yunani menyebutnya pnoema. Sebenarnya sifatnya tak harus hangat. Bisa juga sejuk. Atau berbagai-bagai sifat yang lain, sebab karakter hawa murni juga terkait dengan suasana fikiran kita. Sampai sekarang para ilmuan belum bisa mengidentifikasi secara pasti apa itu hawa murni. Kurang lebihnya, hawa murni adalah essence dari unsur-unsur alam: tanah, api, cahaya, kayu, logam, dan air, yang juga menjadi materi dari badan kita. Hawa murni juga disebut sebagai tenaga kehidupan. Nah, pada taraf selanjutnya kita juga akan berkonsentrasi dengan hawa murni ini. Konsentrasi yang saya maksud adalah, saat bernafas gagasan kita menghirup hawa murni tersebut. Dan saat menghembuskan nafas gagasannya adalah membuang hawa kotor dari tubuh kita. Ada lagi gagasan yang lain ketika bernafas, yaitu menghirup sifat-sifat baik dan mengeluarkan sifat-sifat tidak baik dari dalam diri kita. Kedua gagasan itu pada tujuannya adalah sama. Karena sumber dari segala sumber kehidupan adalah Tuhan, itulah sebabnya sebelum bermeditasi supaya kita berendah hati memohon agar diberikan bimbingan dan jalan supaya meditasi kita menuju arah yang baik. Tanpa kerendah-hatian semacam itu sebenarnya juga tak apa-apa, hanya saja lebih baiknya demikian, karena jangan lupa, pada tujuannya meditasi adalah mengolah kesadaran. Tanpa landasan ruhani itu, niscaya meditasi kita hanya sebagai aktifitas badan semata. ***
KESADARAN PANCA INDERA
Duduk tenang tak bergerak.
Nafas dihayati.
Fikiran memeriksa semua organ
agar seluruh organ rileks.
Berada dalam ketenangan.
Memasuki kedamaian.
Begitu kurang lebih deskripsi seseorang yang akan melakukan meditasi. Apa yang dilakukan selanjutnya sudah kita bahas pada tulisan saya yang pertama, Mengenal Meditasi. Selanjutnya, masing-masing akan memiliki pengalaman meditasi yang berbeda-beda. Dari pengalaman masing-masing itulah, kita bisa melakukan pembahasan lebih mendetail mengenai meditasi. Sebaiknya, bertanyalah kepada orang yang memang memiliki kemampuan akan hal itu. Mohonlah bimbingan kepada dia. Bimbingan akan sangat berguna dan mempermudah pemecahan soal-soal yang kita hadapi. Seseorang juga mungkin menemukan sendiri jalan meditasinya, namun tentu akan melewati try and error yang belum tentu kita bisa menyelesaikannya sendiri. Untuk sekedar pengetahuan, ada baiknya pula membaca buku-buku yang bersinggungan dengan meditasi.
Namun yang perlu disadari, pada akhirnya meditasi adalah pengalaman yang sifatnya pribadi. Meditasi yang dilakukan secara kolektif adalah suatu latihan untuk menambah semangat serta agar bisa dipantau oleh instrukturnya. Yang terjadi tentu saja pengalaman-pengalaman yang pribadi sifatnya. Memang ada benang merah yang semua orang mengalami dan bisa dirumuskan menjadi metoda, tapi pada pengembangan lebih jauh masing-masing orang tidak bisa disamaratakan karena pencapaian dan persoalan yang dihadapi tidak sama. Saat latihan, saya sering menemui peserta yang dengan mudah melakukan duduk rileks dan bisa mengikuti instruksi-instruksi. Yang begini bisa dikembangkan lebih jauh lagi. Tapi banyak pula yang lain yang baru beberapa menit saja sudah merasa tersiksa dengan anjuran posisi duduk yang terkesan ‘mengatur’ betul itu. Tentu harus pelan-pelan dan teliti dalam hal ini. Menghadapi yang susah-susah begini saya tak putus asa, sebab saya sendiri adalah orang yang awalnya juga lamban dan kaku. Kalau seorang rekan saya sudah sampai langkah 10, ibaratnya saya masih nol. Jadi payah sekali. Untungnya saya sejak dahulu memang tertarik dengan meditasi, sehingga ada semangat untuk mengatasinya.
Selain rileksasi, aktifitas lain yang bisa dikembangkan adalah meneliti pendengaran, penciuman, perabaan (kepekaan kulit), dan penglihatan. Sebenarnya ini sudah otomatis terjadi. Tetapi bisa juga dilakukan dalam kesadaran kita. Dengarkanlah seluruh suara sekitar dengan secermat-cermatnya. Semua suara. Yang dekat, yang jauh, yang keras, yang lirih, semua dengarkan dengan penuh tenang dan teliti. Dengan begitu kita sadar, sebetulnya banyak sekali suara apabila kita berkonsentrasi ke situ. Kalau ada daun yang jatuh, kita sadar bahwa itu juga menimbulkan suara. Kalau ada orang berjalan, kita sadar bahwa orang melangkah itu juga menimbulkan suara. Begitu seterusnya. Ciumlah segala bau-bauan yang ada di sekeliling. Bau tanah, bau ruangan, bau tumbuhan, bau bunga, bau keringat, bau masakan, dan seterusnya. Wah, ternyata banyak sekali bau-bauan yang ada. Dalam sehari-hari kita tidak menyadari bahwa bau-bauan sebanyak itu. Baju kita saja kalau kita teliti berbeda-beda baunya menurut masing-masing bahannya. Kepekaan perabaan bisa dilatih dengan merasakan sensasi angin, cahaya yang menimpa tubuh kita, getaran benda-benda, getaran suara-suara, dan sebagainya. Berilah kesempatan kepada seluruh permukaan kulit kita untuk mengakrabi getaran itu. Latihan penglihatan bisa dilakukan tersendiri setelah meditasi duduk itu, dengan memandang segala sesuatu seteliti mungkin. Bisa dengan memandang panorama alam, di mana mata kita berkesempatan untuk menyaksikan keluasan, yang dalam sekali pandang bisa menangkap sekian benda dan sekian peristiwa. Latihan ini disebut meditasi memandang 180 derajat. Yang kita pandang tidak fokus, melainkan melebar. Ada yang melakukan sambil berdiri ada pula yang sambil duduk sebagaimana orang meditasi. Kalau pengecapan bisa dilakukan dalam sehari-hari. Misalnya membedakan rasa makanan yang enak dan tidak enak. Nanti dulu. Pengertian ‘enak’ juga dipengaruhi oleh input data dari penglihatan. Karena itu banyak produk makanan yang menggunakan pewarna dan kemasan yang keren-keren. Biar terkesan lezat. Nah, dalam hal ini lidah harus obyektif. Memang sudah sewajarnya jika secara otomatis penglihatan kita bekerja dan memberi data, tetapi ia tidak boleh mendominasi. Kenyataannya, dalam sehari-hari panca indera kita kurang optimal bekerja karena didominir oleh penglihatan. Inilah salah satu alasan kenapa orang meditasi itu memejamkan mata, supaya indra yang lain berkesempatan bekerja secara optimal pula.
Menyadari optimalitas kerja panca indera sungguh penting. Sebab panca inderalah yang menjadi pintu masuk semua data pengalaman kita. Kalau seorang aktor kurang mendengar, wah, itu payah. Tak akan bisa ia menyimak lawan mainnya dengan baik. Kalau indra perabanya tidak sensitif, bagaimana bisa akting terkejut atau takut dengan baik? Terkejut atau takutnya pasti diada-adakan saja. Sebab ketakutan dan keterkejutan itu, getarannya pertama mula diterima oleh indra peraba. Janganlah heran kalau seorang samurai atau jago kungfu ketika ditebas lawannya dari belakang, dengan sigap ia bisa menghindarinya. Itu karena kepekaan indra perabanya sudah sangat terlatih.
Dalam konteks keaktoran meditasi merupakan suatu usaha menghayati bentuk-bentuk pengalaman. Bukan hanya pengalaman penglihatan saja, melainkan pengalaman pendengaran, perabaan, penciuman, pengecapan, bahkan pengalaman jantung, pengalaman darah, pengalaman syaraf-syaraf. Apabila Anda sedang bersedih, cobalah periksa bagaimana keadaan jantung, keadaan syaraf, keadaan darah, dan seterusnya. Tak hanya fikiran dan perasaan saja yang terlibat, tetapi seluruh organ juga turut menyatakannya. Kinerja organ ketika sedang sedih, sedang gembira, sedang marah, berbeda-beda tempo dan iramanya. Apabila terlatih meneliti dalam latihan meditasi, tentu akan memiliki sensitifitas yang lebih, yang secara otomatis bisa mengakses dan menyimpan aneka-ragam pengalaman manusia. Bahkan, meditasi itu metoda penyaringan yang membuang sampah-sampah pengalaman yang tidak berguna. Kapasitas penyimpanannya tak terhingga. Ibarat komputer sampai jutaan gega nilainya. Dan pengalaman yang disimpan tidak menimbun, melainkan mengkristal. Kristalisasinya merupakan database yang bisa dibongkar kapan saja dan di mana saja. Oleh sebab itu ketika bermeditasi tulang punggung dianjurkan supaya lurus. Tulang punggung ini ibarat RAM nya, pengatur kecepatannya, karena di situ terdapat syaraf tulang sum-sum yang mengatur daya refleks manusia. Ia menerima sensasi-sensasi yang dengan secepat kilat disampaikan kepada otak yang berfungsi melakukan seluruh koordinasi badan kita. Aduh, saya kira komputer pentium tercanggih sekalipun tak ada yang bisa menandingi kecepatan kerja syaraf refleks manusia.(bersambung)***
MEDITASI DALAM LAKU
Selain meditasi berdiam diri, ada pula yang disebut meditasi laku. Maksudnya, suatu kegiatan yang dilakukan secara meditatif. Kerja apapun asal itu dikerjakan dengan totalitas dan konsentrasi, maka bisa disebut meditasi. Totalitas di sini dalam makna melibatkan secara penuh badan, fikiran dan perasaan. Lha kita minum saja bisa meditatif kok? Bukan berarti minumnya harus khusuk dan resmi, tapi minum dengan sepenuh diri kita. Kalau sudah srupuuuuuut, minum teh itu, waduh, nikmatnya bukan main. Telinganya ikut minum karena mendengar suara sruputannya. Lidahnya bergoyang karena merasakan manis tehnya. Tenggorokannya nyaman karena merasakan hangatnya. Matanya berbinar-binar karena melihat teh warna tembaga dalam gelas kaca. Sampai-sampai syaraf, kelenjar, dan darah dalam tubuh kita pun turut bereaksi. Turut minum. Jadi yang minum itu bukan mulut kita saja. Tapi seluruh diri kita ikut minum. Semestinya, begitulah apabila seseorang melakukan akting di panggung. Dengan sepenuh dirinya.
Orang menyapu pun bisa meditasi. Mengepel, memasak, menyulam, mencuci, dan kerja-kerja yang lain memungkinkan pula untuk bisa meditatif, asal kerjanya dilandasi dengan ketekunan yang sepenuh hati. Kalau Anda memperhatikan kerja tokoh-tokoh besar itu, tokoh apapun, mereka selalu dalam keadaan yang meditatif. Saya pernah mengunjungi seorang sastrawan besar, seorang maestro prosa terbesar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Wuuuh, meditatif betul dia itu. Masuk ke halaman rumahnya di Utan Kayu, saya sungguh-sungguh terpesona. Hampir semua yang ada di halaman rumahnya mencerminkan sesuatu yang semuanya mendapatkan sentuhan pemeliharaan tangannya. Rumput-rumput rapi, pot-pot bunga begitu tertata, bangku dalam posisi yang pas dan enak dilihat, dan seterusnya. Itu semua sentuhan tangan pak Pram, yang kalau pagi merutinkan diri untuk rapi-rapi dan bersih-bersih di situ. Ketika saya masuk rumah, beliau sedang menghadapi setumpuk arsip. Dengan tekun ia mencoret-coret dan membuat catatan-catatan untuk bahan-bahan bukunya. Di tembok rumahnya yang bersih tergantung piagam dan lukisan yang diatur dengan cermat dan penuh citarasa. Buku-buku nampak tertata dalam rak kayu yang mengkilap dalam rawatan. Pantas betul karyanya selalu mencerminkan keanggunan detail yang mempesonakan. Anda bisa coba baca karya monumentalnya: Bumi Manusia, Rumah Kaca, Anak Semua Bangsa, Arus Balik, Arok-Dedes dan banyak lagi. Semuanya dalam penggarapan yang mendetail. Jurusnya itu tadi, kerja meditatif. Total.
Kerja yang semata melaksanakan kewajiban saja kurang baik nilainya. Seyogyanya, suatu kerja dilakukan dengan penuh kegembiraan. Bukan berarti gembira yang lantas mengurangi mutu kerjanya, sebaliknya, gembira yang memacu peningkatan mutu kerja secara terus-menerus. Memang terus-menerus, karena mutu kerja kalau mau ditingkatkan tak ada habisnya. Dengan begitu kita bekerja tidak dengan beban, melainkan dengan penuh semangat dan mencintai apa yang dikerjakan. Apabila demikian, itulah yang disebut kerja dalam kesadaran.
Dengan kerja pula, kita juga melatih kepekaan indra dan syaraf-syaraf. Ia yang rajin, cenderung lincah dalam bergerak dan gesit dalam menanggapi, oleh karena syaraf motorik dan syaraf tulang sum-sumnya peka. Tapi saya sering heran pula, apabila melihat orang-orang teater yang justru memanjakan badannya dengan menghindari kerja karena malas atau gengsi. Perlu diingat, duduk bermeditasi itu baik, tapi kalau menjadikan diri pasif itu payah namanya. Itu melenceng dari tujuannya. Duduk meditasi bisa dikatakan berhasil apabila dampaknya membuat seseorang lebih aktif, mobile, dan terbuka. Dalam banyak kasus, orang-orang yang tak mengenal teknis meditasi kadang-kadang pola hidupnya lebih meditatif dari seorang ahli meditasi sekalipun, karena laku mereka merupakan suatu meditasi tersendiri.
Meditasi laku juga bisa dalam bentuk petualangan. Pada tahun 2000, saya pernah belajar melukis kepada seorang maestro sketsa Indonesia, Ipe Ma’aroef. Ia juga meditatif oarangnya. Pagi-pagi sekali beliau bangun, lalu bersembahyang. Selesai bersembahyang ia meneliti kertas dan alat-alat gores sketsanya. Setelah beres beliau menatap saya, seolah-olah bertanya saya sudah siap atau belum? Begitu saya mengangguk, pak Ipe beranjak, memulai petualangannya. Saya ngintil di belakangnya. Kami berjalan kaki di pagi buta. Wah, benar-benar pengalaman yang mengesankan. Jalan terus. Asyik terus. Dan aneh, seolah tak ada capainya. Kalau pagi-pagi buta itu, cericit burung terdengar dengan jelas dan begitu merdunya, dan begitu banyaknya, dan begitu beraneka ragamnya. Angin pagi seolah menelusupi pori-pori. Jalanan di Depok yang naik turun itu tidak memberikan kesan melelahkan melainkan memancarkan tantangan yang menggairahkan. Kaki pun melangkah. Mata memandang panorama. Oksigen dari tumbuh-tumbuhan rasanya mencuci paru-paru kami yang ampek karena kebanyakan merokok. Orang-orang yang bersimpangan dengan kami terlihat sosoknya demikian terperinci. Sampai-sampai, kalau dalam bertualang seperti itu, secara spontan ekspresi orang tersebut tertangkap oleh kita. Sampai-sampai lagi, seolah kita bisa membaca apa yang tengah difikir-rasakan orang tersebut. Yang lucu, yang ngenes, yang indah, yang serem, tiba-tiba ada interaksi dengan suasana-suasana ‘dalam’ itu. Sebenarnya, akan lebih efektif apabila petualangan tersebut dilakukan seorang diri.
Jam 7 biasanya kami singgah di kedai. O, nikmatnya sarapan setelah bergerak begitu. Bakwan, sambel, pecel, dan segelas air putih sudah hebat rasanya. Selesai sarapan bertualang lagi. Jam sepuluhan biasanya kami sampai kota. Jalan terus. Duh, panasnya terik matahari. Galak betul matahari. Kami masuk ke gang-gang, dan biasanya berhenti di pasar. Betapa banyaknya manusia. Mau ke mana saja mereka itu? Anak siapa saja mereka itu? Masing-masing isi kepala mereka itu tentu berbeda-beda. Bentuknya juga aneh-aneh. Lain-lain semua. Kelihatan unik-unik. Lalu pak Ipe berhenti. Ia jongkok dan mengeluarkan kertas dan penanya. Lalu sreeet….sreeet….sreeet, ia menggores kertasnya membuat sketsa. Dan jadinya artistik betul. Seperti asal saja tapi komposisinya bagus, lekukan-lekukan garisnya bagus, aksi-reaksi garis-garisnya bagus, ekspresi orang-orang yang di-sket juga bagus. Malah ada kabel listrik dan dahan akasia segala. Padahal itu hanya kelihatan kalau memandangnya agak ke atas. Jadi mata pak Ipe itu seperti angel-camera yang seolah dicantolin di atas, sementara orangnya di bawah.
Bukan artistiknya saja, tapi ada semacam peristiwa yang terekam secara mendetail pada garis-garis yang minimalis itu. Di situlah kandungan nilai seninya. Suatu pengalaman aksi-reaksi ‘dalam’ yang coba ditumpahkan dalam bentuk sketsa. Karena itu yang terlibat melukis bukan mata dan tangan Ipe saja, melainkan seorang Ipe Ma’aroef secara utuh: badan, fikiran dan perasaannya.
Duz, petualangan pak Ipe itu tidak bermaksud mencari inspirasi, melainkan suatu upaya menggugah kesadaran dalam dirinya. Kesadaran panca inderanya, kesadaraan fikirannya, kesadaran emosinya, dan kesadaran intuisinya. Itulah yang dinamakan sebagai olah-rasa. ‘Rasa’ di sini tidak bermakna emosi. Lebih dari itu, ia suatu essence dari pengalaman manusia. Suatu perasan, sebuah kristalisasi. *** (bersambung)
